Kembali

By Firyal Adilah - 08.37



Melepaskan hal-hal yang membuat kita anxious atau insecure are easier said than done. Banyak motivator atau 'influencer' bilang, "oh kita harus mulai melepaskan, kita harus bersikap bodo amat..." dsb. Tapi pada realitanya, banyak yang harus kita lalui untuk sekedar melepaskan. Karena pada kenyataanya banyak alasan untuk melepaskan, namun banyak pula alasan untuk bertahan.

"Gue gak bisa langsung resign, masih butuh uangnya"
"Gue gak bisa putus sama dia, gue udah lama sama dia, udah terlanjur sayang."
"Kalo saya cerai, gimana nasib anak saya."
"Gue gak enjoy di sini, tapi ya mau gimana lagi. Gue gak bisa pergi dari sini."

Banyak pertimbangan yang harus dilalui untuk sekedar melepas. Gapapa, wajar, ini bukanlah proses sehari kelar terus masalahnya selesai. Memang lebih berat untuk keluar dari hutan dibandingkan masuk. Dan lebih berat lagi, kembali ke awal.

Melepaskan berarti kita harus kembali lagi ke awal, dan terkadang kita belum siap untuk memulai kembali. Waktu yang telah kita lalui selama ini, segala kenangan pait manis hidup disini, belum lagi tenaga dan uang yang udah kita keluarin untuk segala hal. Susah rasanya mau ngebuang semua begitu aja.

Namun, Kembali dari awal bukan berarti sepenuhnya memulai dengan kanvas kosong. Kanvas kita dihidup ini cuma satu. Pengalaman-pengalaman yang kita lalui sebelumnya, bisa jadi bekal di pijakan kita selanjutnya. Melangkah mundur bukan juga berarti kita tertinggal. Kadang dengan melangkah mundur, kita bisa melihat kanvas yang penuh coretan dengan lebih baik dan mungkin bisa lebih mengapresiasi, sebelum mulai menggores lagi di kanvas yang sama. Seperti karya Jason Pollock, kanvas terlihat indah kalau banyak goresan penuh makna didalamnya.

Selamat merenung malam ini, kawan.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar